PSAKI – LANJUTAN 16: PERUBAHAN RESIKO – Robertus Ismono

by

Tulisan ini mengenai ketentuan  okupasi (butir 3.1.3) dan adanya barang lain (butir 3.1.4) dalam PASAL 3. Perubahan Resiko. Ketentuan-ketentuan mengenai harta benda (butir 3.1.1) dan lokasi (butir 3.1.2) telah disampaikan di dalam tulisan sebelumnya.

3. Okupasi.

Bila semula gedung digunakan sebagai rumah tinggal kemudian dijadikan gudang petasan, maka terjadi kenaikan resiko karena petasan mudah meledak dan terbakar, gedung tidak lagi ditempati (biasanya karena penghuninya merasa tidak aman) sehingga bila terjadi kebakaran tidak dapat segera diatasi.

Demikian pula bila rumah tinggal diubah menjadi restoran. Terjadi kenaikan resiko karena beberapa hal misalnya ada tambahan kompor tekan minyak tanah, kompornya lebih sering bekerja dibanding semula, kegiatan merokok lebih banyak karena pengunjung, tambahan daya listrik untuk air conditioners dengan tidak mengganti kabel listrik menjadi lebih besar dan lain sebagainya.

Kedua contoh diatas mudah dimengerti karena jelas/gamblang. Tetapi bagaimana dengan contoh berikut dimana suatu rumah tinggal kemudian car portnya diberi dua meja dan 8 kursi untuk pengunjung makan mie di pagi hari. Tidak ada tambahan kompor tekan minyak tanah, tidak ada tambahan air conditioners sehingga tidak ada penggantian kabel listrik, pengunjung boleh merokok tetapi karena carport adalah tempat terbuka maka tidak ada kenaikan resiko dari merokok.

Perbedaan dari ketiga contoh tersebut jelas, dalam dua contoh pertama ada kenaikan resiko seperti telah dijelaskan diatas sedangkan dalam contoh terakhir tidak ada kenaikan resiko yang berarti.

4. Adanya barang lain.

Seperti contoh diatas, adanya tambahan kompor tekan minyak tanah menaikkan resiko terhadap bahaya kebakaran. Bila ada penambahan kompor listrik tidak menaikkan resiko karena bahaya kebakaran kompor listrik lebih kecil dibanding kompor gas.

Mengganti kompor gas yang lama yang mempunyai 2 tungku dengan yang baru yang mempunyai 5 tungku ataupun penambahan kompor gas baru pada contoh diatas tidak termasuk ketentuan ini karena kompor gas tersebut bukan barang lain. Dengan pengertian terakhir ini maka tidak terjadi kenaikan resiko atas obyek pertanggungan yang: 1. memperbaharui barang lamanya dan/atau 2. menambah barang sejenis.

Contoh diatas mencoba memberikan pedoman untuk menyimpulkan ada/tidaknya kenaikan resiko. Pemerintah melalui Menteri Keuangan pada waktu itu menerbitkan surat keputusan yang lampirannya berupa Tarif Asuransi Kebakaran yang memuat beberapa hal termasuk pedoman yang dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya kenaikan resiko, misalnya bila suku preminya menjadi lebih tinggi, adanya barang-barang yang termasuk dalam daftar barang berbahaya api atau amat berbahaya api.

Pada saat ini besarnya suku premi tidak lagi sesuai tarip yang ditetapkan tersebut. Namun penulis juga belum mendengar bahwa Surat Keputusan tersebut dibatalkan. Mengacu bahwa peraturan yang dibuat jaman Belanda masih banyak yang berlaku, maka sepantasnyalah ketentuan tersebut juga masih berlaku (meskipun untuk suku premi tidak dipatuhi).

Selain dari Surat Keputusan diatas, secara umum perubahan resiko mencakup:
1. resiko fisik dan
2. resiko moral.

Resiko fisik meliputi lokasi, konstruksi bangunan, barang-barang didalam bangunan, instalasi, sistem pencegahan kebakaran (fire protection system), sistem pemadaman kebakaran (fire fighting system) dan sistim khusus (special hazard system).

Meskipun tidak mudah bagi awam untuk menyimpulkan ada/tidaknya kenaikan resiko, namun dapat ditunjuk ahli yang bersangkutan (engineering consultant, scientists dll). Meskipun demikian penunjukan ahli juga tidak selalu menyelesaikan persoalan. Bila Tertanggung yang diminta menunjuk ahli maka kadang Tertanggung berkeberatan atas biayanya. Bila Penanggung yang menunjuk ahli maka kadang Tertanggung tidak bersedia menerima hasilnya bila tidak menguntungkan Tertanggung karena ahli tersubut dianggap memihak Penanggung yang menunjuknya. Penyelesaian atas hal ini jadinya sering (dibuat) sulit (oleh Tertanggung sendiri).

Resiko moral meliputi kepemilikan, okupasi dan management.

Penggantian pemilik biasanya secara otomatis menghentikan pertanggungan. Resiko okupasi telah dibahas diatas. Resiko management disimpulkan dari banyak hal misalnya pemakaian, pemeliharaan dsb. Untuk PSAKI resiko management ini kecil pengaruhnya, namun tidak demikian untuk polis asing yang mencantumkan kewajiban bagi Tertanggung untuk melakukan semua tindakan yang perlu untuk mencegah terjadinya kerugian/kerusakan (ketentuan reasonable precaution polis PAR/IAR, MB, CECR).

Seperti telah dikutip dalam tulisan sebelumnya, bila terjadi kenaikan resiko maka Penanggung dapat memutuskan untuk meneruskan pertanggungan (dengan atau tanpa tambahan premi) ataupun menghentikan pertanggungan. Bila pertanggungan diteruskan maka ada jaminan polis (tidak berarti ada tanggung jawab polis atas kerugian/kerusakan yang terjadi). Namun bila pertanggungan dihentikan maka tidak ada jaminan polis, sehingga otomatis tidak ada tanggung jawab polis atas kerugian/kerusakan yang terjadi.

Meskipun demikian Tertanggung tidak dapat menuntut agar Penanggung memilih untuk meneruskan pertanggungan saja agar ada jaminan polis.
Pertama pemilihan itu hak Penanggung.
Kedua sebelum Penanggung menetapkan pilihannya Penanggung harus memastikan bahwa keputusannya diterima oleh reasuransi. Bilamana reasuransi menolak keputusan Penanggung, bisa-bisa ganti rugi yang diberikan menjadi tanggungan Penanggung sendiri, dan ini tentunya bukan prinsip asuransi yang benar.

Memaksa Penanggung membayar hanya akan membuat industri asuransi terpuruk dan kehilangan kepercayaan reasuransi luar.

 

Penulis
Ir Robertus Ismono ICA
Adjuster
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Proteksi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *