PSAKI Lanjutan 15 PERUBAHAN RESIKO – Robertus Ismono

by

Tulisan ini sehubungan dengan PASAL 3. Perubahan Resiko yang memuat ketentuan sehubungan dengan keadaan yang memperbesar resiko yang dijamin polis. Permasalahan apakah pengertian memperbesar resiko tersebut terbatas pada resiko yang telah ada, atau juga termasuk adanya tambahan resiko, akan kita lihat di bawah nanti. Demikian juga permasahalahan apakah ketentuan tersebut termasuk resiko yang tidak dijamin polis.

Polis juga membedakan 4 macam perubahan, yaitu sehubungan dengan:

1. harta benda;
2. lokasi;
3. okupasi / kontruksi dan
4. adanya barang lain.

Selanjutnya polis mencantumkan tindakan yang dapat dipilih Penanggung seandainya Tertanggung tidak melapor, yaitu:

1. meneruskan pertanggungan; atau
2. menghentikan pertanggungan.

Berikut permasalahan yang dapat timbul.

1. Harta benda.
Bila semula resiko kebakaran datang dari 2 kompor, kemudian Tertanggung membeli 1 kompor yang sama sehingga resiko kebakaran datang dari 3 kompor, apakah ketentuan ini berlaku.

Dalam versi bahasa Indonesianya, perubahan dari 2 kompor menjadi 3 kompor dapat dipandang sebagai memperbesar resiko (karena pengertian besar dapat menunjuk jumlah) sehingga ketentuan diatas tetap berlaku. Namun dalam versi bahasa Inggrisnya dinyatakan sebagai ’increases the risks’ yang konotasinya lebih sebagai kualitas, bukan kuantitas. Karena kualitas resiko kebakaran dari 3 kompor sama dengan 2 kompor maka tidak terjadi ’increases the risks’ dan karenanya ketentuan diatas tidak berlaku.

Dalam contoh diatas, bila ketentuan tetap berlaku, apakah Penanggung dapat menolak memberikan ganti rugi? Dalam praktek untuk contoh diatas, Penanggung umumnya mengabaikan hal tersebut. Hal ini mungkin didasarkan pada kaidah contra preferentum rule’ yang memberikan keuntungan kepada Tertanggung atas ketidak-jelasan yang terjadi (yaitu pengertian ‘memperbesar resiko’ apakah secara kuntitas atau kualitas). Pada umumnya penilai kerugian juga memilih pengertian ‘increases the risks’ seperti yang mereka ketahui dari literature asing.

Dengan mendasarkan pada ‘increases the risks’ maka kompor minyak tanah lebih tinggi resiko kebakarannya dibanding kompor gas dan kompor gas lebih beresiko dibandingkan kompor listrik, sehingga perubahan dari kompor listrik ke kompor minyak tanah ‘memperbesar resiko’ dan dalam contoh ini ketentuan diatas berlaku.

Pengertian ‘memperbesar resiko’ atau ‘increases the risks’ tentunya juga termasuk berkurangnya (baik dalam kuantitas maupun kualitas) alat-alat pencegah kerugian dan/atau kerugian lanjut. Contoh: semula ada 20 tabung APAR (Alat Pemadam Api Ringan) sejarak setiap 25 m jalan kaki, kemudian menjadi tinggal 10 tabung. Contoh lain: semula pengaman listriknya adalah MCCB (Molded Case Circuit Breaker) dan Fuse, kemudian sekarang diganti menjadi NFB (No Fuse Breaker). Contoh lain lagi: semula system pemadam hydrant berfungsi, sekarang tidak berfungsi lagi.

Terlepas dari permasalahan diatas, ketentuan tersebut sebenarnya juga bermanfaat agar kepentingan Tertanggung lebih terlindungi. Contoh: bila Tertanggung tidak melaporkan adanya 1 kompor tambahan tersebut (dan Penanggung memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hal ‘memperbesar resiko’ tersebut), maka ganti ruginya akan menjadi lebih kecil dibandingkan bila Tertanggung melapor dan karenanya Harga Pertanggungannya  disesuaikan (karena underinsurance, kecuali bila sejak semula Harga Pertanggungannya berlebihan/overinsured).

Sementara dari contoh MCCB vs NFB Tertanggung tidak memperoleh keuntungan apa-apa karena ganti rugi yang diberikan dihitung berdasarkan nilai dari barang yang rusak, yaitu NFB nya, bukan MCCB nya.

2. Lokasi.

Selain perubahan harta benda, polis juga memuat ketentuan mengenai perubahan lokasi dimana harta benda disimpan. Karena pengertian lokasi (dalam versi bahasa Inggrisnya juga location) dapat berarti lokasi pertanggungan saja maupun lokasi sekitarnya, maka  dapat timbul beda pengertian atas ketentuan tersebut. Perlu diingat bahwa jaminan PSAKI didasarkan pada “Bahwa Tertanggung … telah mengajukan …suatu permohonan tertulis yang dilengkapi dengan permohonan tertulis lainnya …”. Dengan demikian bila permohonan tertulis tersebut mencantumkan isian mengenai keadaan sekitar lokasi pertanggungan, maka tentunya keterangan tersebut mempunyai peran dalam menyimpulkan besarnya resiko yang ada untuk menetapkan premi yang memadai, sehingga resiko yang lebih besar tentunya mengakibatkan premi yang lebih besar, atau dengan kata lain resiko lokasi sekitar termasuk dalam ketentuan ini.

Bila lokasi dimana harta benda semula disimpan adalah rumah tinggal kemudian harta benda tersebut dipindahkan ke gudang umum, maka secara umum terjadi kenaikan resiko karena gudang umum berisi banyak barang lain yang mungkin saja ada barang yang mudah terbakar. Juga sering gudang umum tidak ada penghuni manusianya sehingga bila terjadi musibah tidak dapat segera diatasi. Dengan demikian pada umumnya Penanggung menolak memberikan ganti rugi atas musibah yang terjadi yang menjadi jaminan PSAKI dengan mendasarkan pilihan no. 2 ‘menghentikan pertanggungan’ (artinya tidak lagi ada pertanggungan sejak terjadinya perubahan, sehingga musibah terjadi sewaktu tidak ada pertanggungan / polis).

Demikian pula bila lokasi sekitar tadinya tanah kosong kemudian berubah menjadi restoran, warung bensin,  tempat pengumpulan sampah dan lainnya, maka pada umumnya Penanggung menolak memberikan ganti rugi atas musibah yang terjadi.

Ketentuan mengenai perubahan okupasi / konstruksi dan adanya barang lain akan dibahas dalam tulisan Minggu depan.

Penulis
Ir Robertus Ismono ICA
Adjuster
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Proteksi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *