PSAKI – LANJUTAN 14: FAKTA MATERIAL – Robertus Ismono

by
512171546

Sampai dengan tulisan ke 13 telah dibahas jaminan dan pengecualian PSAKI serta antisipasi permasalahan yang mungkin timbul. Penulis berharap dengan antisipasi tersebut tidak perlu lagi timbul permasalahan, ataupun pelaku usaha telah menyiapkan penyelesaian jangka panjang yang baik.

Tulisan ini dan seterusnya menyangkut antisipasi permasalahan yang mungkin timbul dari ketentuan-ketentuan yang dicantumkan di dalam polis.

Ketentuan yang mungkin menimbulkan masalah dimulai dari Bab IV Pasal 1 mengenai kewajiban Tertanggung untuk mengungkapkan fakta material dengan ancaman tidak wajibnya Penanggung untuk memberikan ganti rugi.

Yang dipersyaratkan adalah mengungkapkan fakta material yang mempengaruhi pertimbangan (calon) Penanggung dalam menerima / menolak pertanggungan yang dimintakan (calon) Tertanggung, juga fakta material yang mempengaruhi pertimbangan (calon) Penanggung dalam menetapkan suku premi bila ia menerima permintaan pertanggungan tersebut.

Yang dimaksud dengan fakta material tampaknya adalah material facts, yaitu semua hal fisik yang ada pada (calon) obyek pertanggungan, seperti :
– jenis barang (misal konstruksi bangunan yang akan dipertanggungkan),
– sifat barang (misal stok yang mudah terbakar),
– penggunaan barang (misal heavy equipment yang digunakan di muara sungai),
– keadaan sekitar barang (misal tetangga sekitar dari bangunan) dan sebagainya.

Dengan demikian ketentuan ini tidak termasuk hal-hal non fisik seperti misalnya quota tekstil export (yang tampaknya berpengaruh atas kemungkinan terjadinya klaim), kelangkaan / harga suku cadang suatu mesin (yang mempengaruhi besarnya nilai klaim) dan sebagainya.

Jadi Penanggung tidak boleh menolak memberikan ganti rugi atas suatu kebakaran (bukan pembakaran!) obyek pertanggungan yang berupa pabrik tekstil yang kehilangan quota ekspornya, suatu mesin yang harus dianggap sebagai total loss karena tidak ada suku cadang atau suku cadang penggantinya, apalagi kebakaran rumah yang ditinggali istri muda (semakin tidak jelas hubungannya dengan resiko).

Meskipun demikian ketentuan ini tetap tunduk pada undang-undang atau peraturan pemerintah seperti misalnya senjata, barang keperluan musuh negara, narkoba dan juga barang-barang selundupan. Untuk barang-barang ini Penanggung bukan sekedar tidak wajib memberikan ganti rugi atas suatu kerugian / kerusakan / kehilangan kepentingan, tetapi malahan wajib melaporkannya ke polisi.

Pengertian selanjutnya menyangkut “yang mempengaruhi pertimbangan Penanggung”. Tertanggung dengan mudah dapat berkilah bahwa ia tidak tahu apakah suatu fakta material berpengaruh terhadap pertimbangan (calon) Penanggung. Untuk menghindari perbantahan yang berkepanjangan maka pada umumnya perusahaan asuransi telah membuat daftar pertanyaan yang harus diisi (calon) Tertanggung dan bila dirasa belum mencukupi maka (calon) Penanggung juga perlu melakukan pemeriksaan fisik atas (calon) obyek pertanggungan. (Catatan: pemeriksaan dokumen diperlukan untuk menyimpulkan ada / tidaknya kepentingan yang layak dipertanggungkan).

Namun karena ada begitu banyak jenis barang dan ada banyak peraturan, maka sebaiknya (calon) Tertanggung memberitahukan (calon) Penanggung hal-hal fisik yang bersifat khusus dari barang yang akan dipertanggungkannya. Selain untuk menghindari timbulnya permasalahan di kemudian hari, mungkin saja didapat keuntungan lain seperti saran yang dapat diberikan oleh (calon) Penanggung. Contoh: bila (calon) Penanggung diberitahu bahwa stok yang akan dipertanggungkan bersifat self combustion, maka (calon) Penanggung dapat menyarankan perluasan jaminan yang cocok.

Memberitahu (calon) Penanggung hal-hal yang bersifat umum seperti bahwa mesin Diesel yang akan dipertanggungkan memerlukan bahan bakar solar tidak diwajibkan. Penanggung wajib memiliki pengetahuan dasar atas barang-barang umum.

PSAKI tidak mencantumkan ketentuan mengenai saran dari Penanggung kepada Tertanggung untuk mencegah terjadinya kerugian / kerusakan seperti ketentuan yang terdapat di dalam polis PAR/IAR, CECR, MB, CAR / EAR dan lain-lain. Polis-polis ini mencantumkan ketentuan tersebut karena di negara polis tersebut dibuat serta beberapa negara maju lainnya Penanggung sering memberikan saran untuk mengurangi resiko terjadinya kerugian / kerusakan. Pertama-tama Penanggung tersebut memang memiliki pengetahuan dasar mengenai sifat barang-barang yang umum dipertanggungkan. Kedua, mereka juga memiliki pengetahuan dasar mengenai manajemen resiko. Ketiga, mereka memiliki catatan yang lengkap mengenai hal-hal yang berkaitan dengan musibah yang telah terjadi. Hal ini tentunya akan sangat berguna baik bagi Penanggung sendiri maupun Tertanggung, karena bagaimanapun luasnya pertanggungan, ada kerugian yang tidak dapat memperoleh ganti rugi, seperti misalnya kehilangan langganan, kesempatan pesaing merebut pasar dan lain-lainnya. Mencegah kerugian / kerusakan pastilah lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibanding mengajukan tuntutan ganti rugi ke Penanggung. Sayangnya hal ini sering kali tidak disadari oleh (calon) Tertanggung yang malahan merasa terganggu oleh survey resiko yang diadakan oleh (calon) Penanggung atau pihak yang ditunjuknya. Ada yang sekedar tidak memberikan data lengkap mengenai (calon) obyek pertanggungan, namun ada juga yang menutupi fakta material dari (calon) obyek pertanggungan. Selain berdampak pada timbulnya kesulitan penempatan resiko ke penanggung ulang, premi yang jadi lebih mahal dan sebagainya, ditutupinya fakta material juga sangat berpengaruh pada ganti rugi bila terjadi kerugian / kerusakan.

Fakta material dan survey resiko merupakan dua hal yang sangat penting yang belum disadari kegunaannya bagi umumnya (calon) Tertanggung (dan sebagian Penanggung) dengan mana kita belum maju secara asuransi.

 

Penulis
Ir Robertus Ismono ICA
Adjuster
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Proteksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *