PSAKI – Lanjutan 13 Pengecualian – Robertus Ismono

by

Dalam tulisan terdahulu telah dibahas sampai dengan pengecualian 2.2.8.

Pengecualian selanjutnya pada butir 2.2.9 menyangkut pohon kayu, tanaman, hewan dan atau binatang. Pengecualian ini diterapkan karena tanaman dan binatang memang lebih cocok dipertanggungkan dengan polis lain.

Meskipun demikian telah banyak dibuat pertanggungan kebakaran untuk tanaman seperti sawit, tebu, pinus, karet dan sebagainya. Juga telah banyak musibah kebakaran yang terjadi.

Kebakaran pada tanaman tebu sering terjadi karena penjalaran api yang dibuat petani. Meskipun kebakaran yang terjadi dapat mencakup areal yang luas, kerugian yang terjadi jarang yang bersifat kerusakan keseluruhan (total loss), dan biasanya hanya berupa penurunan kandungan gula. Tebu yang telah terbakar harus segera digiling agar kandungan gulanya tidak semakin turun.

Seperti juga kebakaran pada tanaman tebu, kebakaran pada tanaman sawit juga dapat mencakup areal yang luas, terutaman tanaman sawit yang telah berbuah. Memadamkan kebakaran pada buah sawit juga cukup sulit (apinya sulit mati dan mudah menyala kembali) karena buah sawit mengandung minyak yang mudah terbakar. Dengan demikian bila terjadi kebakaran tanaman sawit maka usaha yang utama adalah memotong penjalaran api yang dilakukan dengan merobohkan tanaman yang berada di sekitar lokasi kebakaran.

Namun berbeda dengan kerugian tanaman tebu yang sekedar berupa penurunan kandungan gula, kebakaran pada tanaman sawit dapat menyebabkan satu blok rusak total.

Hal ini disebabkan karena:
1. tanaman yang berhasil hidup kembali tidak dapat menghasilkan buah sebanyak tanaman yang belum pernah terbakar, sehingga tanaman ini menjadi tidak ekonomis untuk terus dipelihara:
2. biaya pemeliharaan atas tanaman sisa yang tidak terbakar dalam satu blok tidak ekonomis:
3. tanaman baru tidak dapat tumbuh sehat di antara tanaman yang sudah besar. Dengan demikian sering bahwa kebakaran pada sebagian besar tanaman sawit dalam satu blok harus diperlakukan sebagai rusak seluruhnya (total loss) untuk blok tersebut. Hal ini tidak sesuai dengan kaidah ganti rugi asuransi yang memberikan ganti rugi hanya atas obyek pertanggungan yang mengalami kerugian / kerusakan fisik, bukan yang tidak ekonomis seperti di atas.

Sama seperti tanaman sawit, tanaman karet baru juga tidak dapat tumbuh sehat di antara tanaman karet yang sudah besar. Namun menebang seluruh sisa tanaman karet untuk dapat menanam tanaman baru sering tidak ekonomis. Dengan luas kerusakan yang sama, kebakaran pada tanaman karet masih lebih berpeluang untuk rusak sebagian dibanding tanaman sawit yang akan diperlalukan sebagai rusak seluruhnya.

Pengecualian selanjutnya pada butir 2.2.10 menyangkut taman, tanah, saluran air, … kabel dalam tanah, … dan seterusnya yang memang tidak (akan) terbakar ataupun lebih cocok dipertanggungkan dengan polis lain (seperti Civil Engineering Completed Risks – CECR).

Namun untuk kabel dalam tanah mudah menimbulkan masalah. Contoh suatu pabrik besar yang dipertanggungkan dengan PSAKI. Di dalam pabrik ini ada kabel yang berada di dalam tanah dari power house ke bangunan dan dari bangunan ke bangunan lain. Ujung-ujung kabel tersebut keluar dari tanah untuk menghubungkan panel bagi dengan panel bagi lain ataupun dengan peralatan listrik. Bagian kabel yang berada di luar tanah ini dapat terbakar (karena penjalaran api dari sekitar, digigit tikus, sambungan longgar dll). Meskipun bagian yang terbakar tidak banyak, namun menyambung kabel memerlukan biaya besar sehingga tidak selalu ekonomis dan tidak selalu dapat dilakukan (karena tempat yang tersedia tidak mencukupi misalnya), sehingga sering kabel harus diganti dari ujung ke ujung. Dengan demikian kerugian yang terjadi cukup besar. Atas dasar ini maka kabel layak dipertanggungkan.

Kabel yang dipasang dalam tanah biasanya kabel utama dan kabel tenaga (bukan kabel penerangan) atau kabel telekomunikasi. Kabel utama dan kabel tenaga ini dapat bertegangan 20 kV (misal N2XSY) ataupun 380/220 kV (umumnya NYY, NYFGbY). Dengan ditempatkannya kabel ini di dalam tanah maka ia akan mengurangi resiko penjalaran api bila terjadi kebakaran. Menempatkan kabel NYY atau NYFGbY ke udara selain menimbulkan resiko penjalaran api yang lebih besar, juga memerlukan biaya lebih besar serta menurunkan daya hantar listriknya (penurunan lebih besar pada kabel lebih kecil).

Bila Tertanggung harus membeli PSAKI untuk gedung dan isinya serta CECR untuk kabel dalam tanahnya, maka menjadi tidak ekonomis dan rasanya calon Tertanggung (yang mengetahui masalah ini) akan memilih membeli polis CECR (polis PAR/IAR juga mengecualikan kabel sesuai butir 1.7).

Cara termudah tentunya dengan memperluas jaminan PSAKI menjadi termasuk kabel dalam tanah. Namun hal ini sering dilupakan dan (akan) menjadi masalah pada saat klaim.

Pengecualian butir 2.2.10 mengenai harta benda pertambangan di bawah tanah diterapkan selain karena ia mengandung resiko yang lebih tinggi karena pemadaman kebakarannya lebih sulit, penerapan ini juga sejalan dengan pengecualian butir 2.2.8 bangunan di bawah tanah.

Pengecualian harta dan bangunan di bawah tanah butir 2.2.10 dan 2.2.8 tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bahwa isi basement (mesin-mesin dan instalasinya dll) tidak dijamin, kecuali dinyatakan secara khusus bahwa pertanggungan termasuk isi basement.

Penulis
Ir Robertus Ismono ICA
Adjuster
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Proteksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *