PSAKI – Lanjutan 12 Pengecualian – Robertus Ismono

by

Dalam tulisan terdahulu telah dibahas sampai dengan pengecualian 2.2.7.

Pengecualian selanjutnya pada butir 2.2.8 menyangkut pondasi, bangunan di bawah tanah, pagar.

Pengecualian ini diterapkan mungkin dengan pertimbangan bahwa tidak pantas memberikan pertanggungan atas barang yang tidak (akan) mengalami kerugian / kerusakan / kehilangan kepentingan yang disebabkan oleh musibah yang diperjanjikan. Bila ini adalah alasan penerapan pengecualian tersebut, maka tentunya pengecualian tersebut tidak berlaku untuk pondasi cerucuk (kayu yang ditancapkan ke dalam tanah sebagai pondasi rumah panggung seperti di Kalimantan dan daerah lain) karena pondasi cerucuk tersebut akan kehilangan gunanya apabila bagian atasnya terbakar (di banyak tipe bangunan, bagian atas ini menjadi tiang bangunan). Sementara bagian yang tertinggal di dalam tanah tidak ekonomis untuk dicabut dan ditancapkan kembali. Ia juga tidak ekonomis dan layak tehnis untuk disambung. Dengan demikian pondasi cerucuk ‘layak untuk dipertanggungkan’.

Masalah serupa terjadi untuk bangunan di bawah tanah. Bila yang dimaksud adalah bangunan seperti septic tank, underground fuel tank, underground water reservoir dan sebgainya, maka memang benar bahwa barang-barang ini tidak rentan terhadap kebakaran (dan musibah PSAKI lainnya). Namun bila menilik versi bahasa Inggrisnya, istilah yang dipilih untuk bangunan di bawah tanah adalah ‘basement’. Pada saat ini, umumnya basement terdapat pada gedung bertingkat banyak (high rise building) dan beberapa rumah mewah. Basement gedung bertingkat biasanya berisi mesin-mesin utama gedung tersebut beserta instalasinya seperti Diesel generating set, tanki bahan bakar harian, panel bagi listrik, pompa-pompa pemadam kebakaran, pompa air bersih / kotor / hujan / limbah dan lainnya serta gudang suku cadang mesin-mesin tersebut. Sedangkan basement rumah mewah digunakan untuk garasi mobil dan gudang. Barang-barang tersebut dapat terbakar (dan berharga mahal) sehingga basement tersebut sangat ‘layak dipertanggungkan’ (tidak dikecualikan).

Menentukan suatu lantai merupakan basement atau bukan umumnya tidak sulit (karena ada tulisannya). Namun menentukan apakah suatu basement adalah bangunan di bawah tanah juga bukan hal yang mudah (karena versi asli PSAKI adalah bahasa Indonesia maka bila timbul kerancuan harus mengacu pada bangunan di bawah tanah). Banyak basement yang mempunyai bagian yang berada di atas tanah, bahkan bisa saja hanya sisi masuk saja yang di bawah tanah, ketiga sisi lainnya di atas tanah. Istilah di bawah tanah juga dapat mengundang silang pendapat, karena di atas basement biasanya adalah basement lain ataupun ground floor ataupun lobby, bukannya tanah. Lain halnya dengan bunker yang memang terletak di bawah tanah.

Masalah selanjutnya dengan terjemahan bangunan di bawah tanah sebagai basement, adalah bagaimana dengan septic tank, underground fuel tank, underground water reservoir, bunker dan sebagainya (yang sebagian juga terdapat di bagian bawah gedung bertingkat banyak) ?

Masalah utama, bila basementnya dikecualikan, apakah semua barang yang berada di dalamnya (seperti mesin-mesin di atas yang mahal harganya) juga dikecualikan?

Untuk menghindari permasalahan mengenai jaminan polis (atas pondasi atau basement dan barang-barang di dalamnya ataupun pagar), maka perluasan jaminan memang dapat dilakukan (baik pada saat permintaan pertanggungan calon Tertanggung maupun pada masa pertanggungan). Namun dalam praktek lebih sering lupanya, sehingga timbul permasalahan pada saat terjadinya suatu musibah yang diikuti dengan tuntutan ganti rugi (karena perluasan tidak pantas dilakukan setelah terjadinya musibah).

Pilihan lain adalah kembali kepada kaidah bila suatu barang dapat mengalami kerugian / kerusakan / kehilangan kepentingan atau guna maka barang tersebut ‘layak dipertanggungkan’ (dan karenanya tidak dikecualikan), dan sebaliknya.

Meskipun tidak sering terjadi, pengecualian pagar menimbulkan masalah pada kebakaran pabrik di mana ada bagian pagar yang juga menjadi dinding suatu bangunan dan ada juga bagian pagar yang menjadi dinding koridor (penghubung dua bangunan, mempunyai atap, mempunyai lantai beton/keramik, tapi hanya mempunyai satu dinding yaitu bagian pagar tersebut). Bagian pagar yang menjadi dinding bangunan dapat rusak oleh kebakaran karena ada stok di dalam bangunan tersebut. Demikian pula dengan dinding pagar yang menjadi bagian koridor karena di koridor tersebut juga ditumpuk stok yang dapat terbakar.

Bila bagian pagar tersebut rusak terbakar dan Penanggung bermaksud memberikan ganti rugi (berdasarkan kaidah ‘layak dipertanggungkan’) tentunya akan diterima dengan baik oleh Tertanggung. Tetapi bila bagian pagar tersebut tidak terbakar dan nilainya digunakan untuk menghitung value at risk yang (bila harga pertanggungan tidak mencukupi) akan memperkecil ganti rugi (karena adanya bagi adil) maka Tertanggung akan tidak setuju dan bersikukuh bahwa pagar ya tetap pagar.

Dengan kembali kepada kaidah ‘layak dipertanggungkan’ (dan karenanya pengecualian diabaikan) maka jawaban semua persoalan di atas cukup jelas, yaitu termasuk jaminan polis bila ia ‘layak dipertanggungkan’, dan sebaliknya.

 

Penulis
Ir Robertus Ismono ICA
Adjuster
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Proteksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *