Klaim Tertolak Karena Cicilan Leasing Bukan Dibayarkan Oleh Nasabah ?-Sengketa Asuransi

by

Seorang  gadis,  mahasiswi  di  Jakarta  adalah  Tertanggung  sebuah  polis  kendaraan   bermotor   yang menjamin sebuah Toyota Avanza yang dibeli secara leasing. Jangka waktu pertanggungan adalah selama tiga tahun, sejalan dengan masa leasing.

Pada suatu malam hari, kurang lebih sebelas bulan setelah polis berjalan, Toyota Avanza hilang dicuri ketika sedang diparkir di tepi jalan di depan  rumah kosnya. Si gadis melaporkan peristiwa ini kepada Penanggung keesokan harinya dan Penanggung pun segera mengadakan investigasi.

Hasil investigasi  Penanggung  menyimpulkan bahwa  berdasarkan  survey dan  pengecekan  di tempat kejadian peristiwa termasuk keterangan  saksi-saksi, diperoleh informasi bahwa si gadis bukan pemilik Toyota Avanza yang hilang tersebut  melainkan seseorang lain, seorang bapak-bapak.

Penolakan klaim pun dilakukan dengan merujuk pada ketentuan  PSAKBI Bab IV pasal 6 ayat 1 angka 1.2 yang bunyinya :

Tertanggung  wajib  membuat     pernyataan   yang  benar  tentang   hal-hal  yang  berkaitan  dengan penutupan asuransi  yang disampaikan baik pada waktu pembuatan  perjanjian asuransi maupun selama jangka waktu pertanggungan

dan Pasal 6 ayat 2 :

“Jika  Tertanggung  tidak  melaksanakan  kewajiban  sebagaimana  diatur  dalam  ayat   (1)  di  atas, Penanggung  tidak  wajib  membayar  kerugian  yang terjadi  dan berhak menghentikan  pertanggungan serta tidak wajib mengembalikan premi”.

 Si gadis merasa aneh atas penolakan klaimnya, sebab pada semua dokumen terkait yaitu : BPKB, STNK, Faktur, namanya  tertulis sebagai pemilik dan  pada  polis asuransi, yang disebut Tertanggung adalah dirinya. “Apa yang salah?  Bukankah saya pemilik yang sah dari kendaraan ini dan juga Tertanggung yang sah dari polis ini?” si gadis bertanya.

Ternyata,  dalam  investigasinya  Penanggung  mendapatkan   informasi  bahwa  orang  yang membayar leasing bukanlah si gadis, melainkan seseorang  lain yang adalah paman  si gadis sendiri. Sang paman berdiam di Bali dan karena sering ke Jakarta, menghendaki adanya sebuah mobil yang dapat ia gunakan bila berada di Jakarta. Sebagai seseorang yang tidak berkartu penduduk Jakarta, ia tidak boleh membeli mobil   dengan   menggunakan   namanya   sebagai   pemilik,   maka   dibelikanlah   mobil   atas   nama keponakannya. Berdasarkan informasi inilah Penanggung telah menolak membayar klaim Tertanggung, sebab  Tertanggung  dianggap  tidak  mengungkapkan  kepada  Penanggung  bahwa  pembayar  leasing adalah orang lain dan bukanlah Tertanggung sendiri. Dan ini berarti Tertangggung telah tidak membuat pernyataan  yang benar  tentang  hal-hal yang berkaitan dengan penutupan  asuransi atau  Tertanggung telah tidak melakukan kewajibannya yaitu duty of disclosure.

Mediasi  berjalan  alot,  bahkan kasus akan dibawakan  ke tingkat  ajudikasi, akan tetapi  pada  akhirnya Penanggung meninjau kembali keputusan penolakannya dan membayar klaim Tertanggung.

Pembelajaran

Terlalu naïf, kiranya,  alasan penolakan klaim ini. Semua dokumen  terkait membuktikan secara hukum bahwa si gadis adalah pemilik sah dari kendaraan  yang diasuransikan. Apakah orang yang membayar biaya leasing perlu dipermasalahkan Penanggung?  Apakah sumber  uang  untuk  membeli kendaraan harus  diungkapkan? (karena alasan pencucian uang?) Apa pengaruhnya  terhadap  tingkat risiko yang dihadapi Penanggung?

Mungkin kita perlu mengingat kembali prinsip duty of disclosure ini.
Fakta yang berkaitan dengan asuransi haruslah fakta yang benar, fakta sesungguhnya. Pertanyaannya adalah : fakta sesungguhnya yang manakah yang harus diungkapkan?
Fakta sesungguhnya  yang harus  diungkapkan oleh Tertanggung pada  saat  perjanjian asuransi dibuat maupun selama jangka waktu pertanggyungan adalah fakta-fakta material (material facts).

Lalu, apa itu fakta-fakta material?
Fakta material ialah fakta yang akan memengaruhi pertimbangan seorang  prudent underwriter dalam menerima atau menolak sebuah permohonan  asuransi dan menetapkan  syarat-syarat dan  ketentuan- ketentuan    yang   akan   diberlakukan   termasuk   besarnya   premi   yang   akan   dibebankan   kepada Tertanggung.
Misalnya :

  • Fakta yang cenderung membuat  risiko yang dimohonkan  pertanggungannya  lebih  besar  dari pada biasanya. Contoh : permohonan  asuransi banjir untuk daerah yang diketahui Calon Tertanggung sebagai daerah yang selalu dilanda banjir.
  • Fakta tertentu dari suatu risiko yang tanpa fakta tersebut  Penanggung meyakini bahwa   risiko tersebut  adalah normal. Contoh : mengasuransikan mobil yang diketahui mempunyai rem yang tidak berfungsi dengan baik.
  • Fakta yang memperlihatkan motif yang meragukan dalam pencarian asuransi. Contoh : harga pertanggungan yang sangat melebihi harga sebenarnya.
  • Fakta mengenai Calon Tertanggung sendiri. Contoh : catatan klaim yang jelek pada masa lalu.

“Menjadi kewajiban Calon Tertanggung untuk  mengungkapkan  dengan  jelas dan benar  semua  fakta material yang berkaitan dengan asuransi yang dimohonkan. Suatu kewajiban yang positif, bukan negatif yang dibutuhkan dalam pengungkapan hal-hal mengenai fakta , bukan opini”.

 

arsip BMAI
FL.23/09/15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *