Kilau Industri Asuransi Meredup, Premi Hanya Tumbuh 2,26%

by

Jakarta – Industri Asuransi Indonesia bergerak stagnan dan cenderung lesu pada awal tahun ini, tumbuh tidak sampai 5%.
Berdasarkan Statistik Asuransi Indonesia (SAI), premi asuransi bulan Mei hanya mampu tumbuh 3,45% year-on-year (YoY) menjadi Rp 185,99 triliun dari sebelumnya Rp 179,78 triliun. Padahal, pada periode Mei 2018, premi asuransi mampu tumbuh dua digit, yaitu 22,04% YoY.
Pertumbuhan tersebut, lebih lesu dari laju pertumbuhan kredit bank umum yang pada April 2019 mampu tumbuh 11,12% YoY menjadi Rp 5.364 triliun, dilansir Statistik Perbankan Indonesia (SPI)
Berbeda dengan perolehan premi yang cenderung stagnan, total aset industri asuransi pada Mei 2019 masih tercatat tumbuh 8,27% secara tahunan, dimana tipe asuransi jiwa masih mendominasi.

Dari grafik di atas terlihat bahwa meskipun asuransi jiwa membukukan nilai aset terbesar, tapi di Mei hanya mampu tumbuh 2,26% YoY. Lebih rendah dibanding pertumbuhan asuransi umum dan asuransi sosial yang naik masing-masing 8,54% dan 13,26% YoY.
Untuk diketahui, asuransi sosial adalah asuransi yang dikelola oleh negara, seperti asuransi kesehatan (BPJS kesehatan), tabungan & asuransi pensiun (taspen).
Sayangnya, meskipun total aset industri asuransi mampu tumbuh cukup signifikan, tapi proporsinya terhadap total aset bank umum masih di kisaran 15-16%. Untuk diketahui, dalam setahun terakhir, rata-rata total aset bank umum ada di Rp 7.512 triliun.
Terlebih lagi, melansir SAI, industri asuransi jiwa membukukan total rugi bersih (komprehensif) mencapai Rp 3,25 triliun.
Sementara itu untuk industri asuransi umum masih mampu mencatatkan laba bersih (komprehensif) Rp 2,67 triliun per Mei 2019. Nilai ini sejatinya tidak berbeda jauh dengan laba (setelah pajak) bank BUKU II yang ada di Rp 2,56 triliun per April 2019.
Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menyampaikan bahwa lesunya pertumbuhan industri asuransi di Indonesia karena rendahnya literasi (pengetahuan/pemahaman) soal asuransi.
“Yang utama rendahnya literasi asuransi. Penyebab lain karena rendahnya penetrasi asuransi secara umum tidak beranjak naik. Demikian juga densitas asuransi yang rendah serta literasi asuransi yang rendah dibanding sektor perbankan,” kata Irvan kepada CNBC Indonesia, Senin (8/7/2019).
Di sisi lain, kepercayaan masyarakat kepada industri asuransi belum tinggi karena kasus-kasus gagal bayar asuransi besar, seperti Jiwasraya dan Bumi Putera. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada tahun 2018, mencatat ada 21 keluhan dari industri asuransi. Melewati paruh pertama 2019, YLKI pun mencatat ada 8 keluhan.
“Secara umum keseluruhan juga disebabkan kepercayaan masyarakat kepada industri asuransi menurun karena kasus-kasus gagal bayar asuransi besar seperti Jiwasraya dan Bumiputera yg tidak kunjung ada jalan keluar konkrit yg memuaskan nasabah,” ujar Irvan.

TIM RISET CNBC INDONESIA
www.cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *