Berapa Jauhkah Batas Berlakunya Rambu Lalu Lintas? – Sengketa Asuransi

by

Sebuah kendaraan bermotor Suzuki Pick Up hilang ketika sedang diparkir di depan sebuah pasar tradisional, di pinggir jalan yang terpasang rambu lalu lintas dilarang berhenti (huruf S yang disilangi)

Kendaraan bermotor ini diasuransikan dengan kondisi Komprehensif di bawah polis PSAKBI.

Tertanggung mengajukan klaim kepada Penanggung dan petugas klaim Penanggung mengadakan survey ke lokasi peristiwa kehilangan dan di sana ditemukan rambu tanda larangan berhenti. Tertanggung berdiri ditempat kendaraan bermotornya diparkir dan mengatakan bahwa di sinilah tempatnya.. Kegiatan ini direkam oleh alat foto surveyor Penanggung.

Dari survey ini,  Penanggung menyimpulkan bahwa klaim Tertanggung ditolak sambil  merujuk pada ketentuan PSAKBI Pasal 3 ayat 4.5 yang menyatakan : “Perrtanggungan ini tidak menjamin  kerugian, biaya atas kerusakan kendaraan bermotor dan atau tanggung jawab hukum terhadap pihak kertiga jika : 4.5. memasuki atau melewati jalan tertutup, terlarang, tidak diperuntukkan untuk kendaraan bermotor atau melanggar rambu-rambu lalu lintas”.

Tertanggung tidak menyetujui alasan penolakan klaimnya, karena menurut Tertanggung, kendaraan bermotornya yang hilang itu diparkir pada jarak lebih dari 15 meter dari tempat rambu lalu lintas tersebut dipasang. Tertanggung merujuk pada Keputusan Menteri Perhubungan No.61 Tahun 1993 tanggal 9 September 1993 Tentang Rambu Lalu Lintas di Jalan Raya yang menjelaskan tentang Jenis dan Arti Rambu Lalu Lintas :

Rambu S yang disilangi  berarti “larangan berhenti sampai dengan 15 meter dari tempat pemasangan rambu menurut arah lalu lintas, kecuali dinyatakan lain dengan papan  tambahan”.

Memang, pada rambu  S yang disilangi (dilarang berhenti) yang berada di tempat peristiwa pencurian, tidak terdapat papan tambahan apapun.

Terjadi masalah. Bukti apakah yang harus digunakan untuk menentukan dengan benar tempat parkirnya kendaraan bermotor Tertanggung yang hilang tersebut? Surat Tanda Penerimaan Laporan/Pengaduan Polsek menyebut tentang waktu dan tempat kejadian, tetapi tidak menyebutkan di mana persisnya kendaraan bermotor yang hilang diparkir. Adanya rambu lalu lintas tidak boleh berhenti pun tidak disebutkan. Hal ini dapat dimengerti, sebab Polsekmembuat laporan berdasarkan apa yang diceritakan Tertangggung.

Para Pihak tidak sepakat dalam proses mediasi dan Tertanggung menghendaki kasus sengketanya diselesaikan melalui proses ajudikasi di BMAI.

Pembelajaran

Peristiwa ini menghentak. Berapa banyakkah Penanggung yang sesungguhnya mengerti dan menyadari tentang adaya ketentuan mengenai Jenis dan Arti Rambu Lalu Lintas? Sering kita mengira bahwa kita telah paham semuanya dan menganggap remeh. Polis kita mengatur tentang sanksi pelanggaran rambu lalu lintas, tetapi kita tahu hanya sepintas saja mengenai peraturan rambu lalu lintas tersebut.

Seandainya Penanggung memahami adanya ketentuan Keputusan Menteri Perhubungan ini,niscaya laporan suvei lokasi peristiwa menyebutkan juga mengenai berapa jarak antara tempat pemasangan rambu lalu lintas dengan tempat kendaraan bermotor yang hilang tersebut diparkir.

Hal Rambu dilarang Parkir pun, huruf P yang disilangi,  mempunyai pengertian serupa : “Larangan parkir sampai dengan jarak 15 meter dari tempat pemasangan rambu menurut arah lalu lintas, kecuali dinyatakan lain dengan papan tambahan”.

Mari, kita senantiasa memperkaya diri dengan hal ikhwal yang berhubungan dengan pekerjaan kita, agar kita senantiasa berperilaku profesional.

FL 17/04/15

sumber : arsip BMAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *