Asuransi hewan/ternak

by

Berhubung sedang ramai masalah harga daging sapi, maka penulis ingin sekedar mengingatkan bahwa ternak, termasuk sapi, sebenarnya juga telah mendapat perhatian dari industri asuransi dengan menerbitkan polis untuk ternak. Hal ini disampaikan karena tanpa asuransi maka sewajarnyalah peternak menaikkan harga karena adanya ternak yang mati maupun sebagai antisipasi bila terjadi kematian pada ternaknya. Meskipun mengasuransikan ternaknya berarti membayar premi, namun pastinya masih lebih murah dibandingkan menaikkan harga, apalagi dalam jangka panjang.

 

Contoh untuk jangka pendek: bila dari 100 ternak @ Rp 1/ekor mati 3, maka harga 1 ternak = (Rp 100 : 97 ekor) = Rp 1.0309/ekor. Bila premi asuransi 3%, maka harga 1 ternak = (Rp 103 : 100 ekor) = Rp 1.03/ekor atau lebih murah Rp .0009/ekor. Bila premi asuransi 2%, maka harga 1 ternak hanya Rp 1.02/ekor atau lebih murah Rp 0.0109/ekor.

 

Contoh untuk jangka panjang: setelah 10 tahun ada wabah dimana 50 ternak mati, maka harga 1 ternak = (Rp 1000 : 950 ekor) = Rp 1.0526/ekor. Bila premi asuransi 2%, maka lebih murah Rp 0.0326/ekor.

 

Dari contoh diatas untuk premi 2% maka lebih murahnya jangka panjang = (Rp 0.0326 : Rp 0.0109 x 100%) = 299% dibandingkan jangka pendek, sehingga jelas bahwa asuransi jangka panjang lebih menguntungkan.

 

(Kasus wabah di tahun pertama asuransi pasti lebih menguntungkan lagi bagi peternak. Demikian juga bila premi lebih kecil dari 2%. Demikian sebaliknya).

 

Berikut penulis menyampaikan 2 contoh polis untuk ternak, yang sebenarnya berbeda filosofi dasarnya.

 

Polis pertama (Polis Asuransi Ternak / PAT), yang telah beredar di Indonesia, tampaknya dirancang untuk peternakan dengan skala kecil sampai sedang, dimana jaminan dasarnya adalah kematian dan pencurian, tapi tidak termasuk bencana alam (banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, gempa bumi, kekeringan, dll) dan penyakit yang tidak disebut di polis.

 

Polis kedua yang mendasarkan pada Lloyd Livestock policy (LLP), tampaknya dirancang untuk untuk hewan termasuk peternakan dengan skala sedang sampai besar, dimana jaminannya hanya kematian, tapi termasuk bencana alam dan berbagai penyakit.

 

Skala diatas penulis simpulkan dengan pemikiran bahwa hampir mustahil terjadi pencurian besar2an pada peternakan skala besar, namun seluruh ternak dapat mati karena bencana alam sehingga kerugian karena kematian oleh bencana alam dapat menyangkut ganti rugi yang amat besar.

 

Polis pertama, PAT, memberikan jaminan ganti rugi bagi peternak yang Tertanggung akibat: 1) ternaknya mati karena penyakit, pemusnahan paksa, kecelakaan, keracunan, kebakaran, tersamar petir, ledakan maupun kejatuhan pesawat; 2) kerugian karena penjualan paksa tertentu; 3) ternaknya dicuri dengan kekerasan.

 

Polis kedua, LLP, memberikan jaminan ganti rugi bagi Tertanggung bila hewan/ternaknya mati karena penyakit, pemusnahan paksa, kecelakaan, sakit dan/atau luka termasuk mati pada masa polis perpanjangan asalkan penyebabnya telah dilaporkan pada masa polis sebelumnya. Catatan: jaminan di masa polis berikutnya sesuai dengan tujuan pertanggungan untuk digunakan jangka panjang, bukannya setiap kali ganti asuransi maupun jenis polisnya.

 

Catatan: kedua polis diatas adalah polis “named perils” (jaminan disebut) dan karenanya memuat penjelasan atas istilah-istilah yang digunakan, termasuk diantaranya: 1) hewan adalah binatang seperti yang tercantum dalam Ikhtisar Pertanggungan tetapi sebaiknya bukan yang dilarang. 2) ternak adalah hewan yang dipelihara di tempat tertentu dalam jumlah banyak untuk memperoleh keuntungan keuangan. 3) pemusnahan paksa adalah pemusnahan karena dokter hewan menyimpulkan bahwa hewan/ternak ybs menderita penyakit atau luka parah yang tidak dapat disembuhkan yang menyiksa hewan/ternak tsb.

 

Namun seperti semua polis pada umumnya, polis masih memuat istilah/pengertian (terms), ketentuan (conditions), pengecualian (exclusions) maupun persyaratan (provisions) yang dapat menyebabkan tidak adanya jaminan dan/atau tanggung jawab polis sehingga Tertanggung kehilangan hak ganti rugi (Penanggung tidak wajib memberikan ganti rugi).

 

Ketentuan polis yang dapat menyebabkan hilangnya hak ganti rugi misalnya: pelanggaran pembayaran premi; pemberitahuan terlambat; pernyataan / keterangan pertanggungan yang tidak benar; adanya pertanggungan lain; kurangnya usaha pencegahan kerugian (lanjut) / perawatan; dll.

 

Ketentuan polis yang dapat menyebabkan tidak adanya ganti rugi misalnya: resiko sendiri.

 

Pengecualian yang ada di kedua polis misalnya: kesengajaan, negligence Tertanggung/wakilnya; masalah politis seperti perang, pemberontakan, huru-hara, dll.; radiasi dll.

 

Hilangnya hak ganti rugi di LLP juga termasuk bila ada kenaikan resiko dalam berbagai bentuk, dan pemusnahan paksa oleh pemerintah.

 

Hilangnya hak ganti rugi di PAT termasuk tindakan medis; rekayasa genetika; dalam pengangkutan, dalam karantina; banjir, tanah longsor, angin topan, letusan gunung berapi, gempa, kekeringan; kesulitan keuangan; maupun penyakit yang tidak tercantum di polis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *